KAPITALISME RELIGIUS: PERADABAN ISLAM MASA DEPAN?

| 0 comments

Suwarsono Muhammad saat menyampaikanmateri pada Studium Generale bagi Mahasiswa Semester Gasal 2017/2018 PPs UAD di Auditorium Kampus 3 UAD (Foto:Ardi)

Judul tersebut merupakan judul makalah Drs. H. Suwarsono Muhammad, M.A. saat menyampaikan materi pada Studium Generale (Kuliah Umum) bagi 288 Mahasiswa Baru Semester Gasal 2017/2018 Program Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan di Auditorium Kampus 3 UAD Yogyakarta (16/9/2017). Suwarsono adalah Penasehat dan Pengelola Jurnal KPK pada 2013-2017, Anggota Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dosen FE UII, Praktisi Penyehatan Organisasi, dan saat ini adalah pembelajar Peradaban Islam.

“Kenapa harus menggunakan istilah kapitalisme, tentu karena istilah itu sudah familiar di masyarakat, agar masyarakat tertarik untuk membacanya,”terang Suwarsono.

Suwarsono mengungkapkan bahwa strategi rekonstruksi dan peradaban Islam – dalam tema tersebut merupakan pokok kajian yang amat licin, disamping telah dikenali sebagai pokok persoalan yang amat sulit dibahas – medan pendakian yang terjal.  Bahkan bisa menjadi sumber untuk mendapatkan label yang amat negatif ketika justru dianggap (dipersepsikan) melenceng.  Tidak jarang dijumpai tanggapan yang agak emosional, setidaknya terkesan kurang rasional.

Suwarsono melanjutkan bahwa posisi terpuruk peradaban Islam yang telah berlangsung cukup lama – sudah beberapa abad dan masih terus berlangsung hingga kini – sepertinya diakui oleh sebagian besar umat Islam.  Tidak terkecuali sebagian besar umat Islam Indonesia.  Pernyataan posisi itu lebih mudah dirasakan dan dipahami jika diletakkan dalam konteks perbandingan dengan posisi beberapa peradaban yang lain, khususnya peradaban dominan dunia (yang mungkin dalam proses menurun) dan peradaban lain yang sedang berada dalam posisi pasang naik, yakni Barat dan China.  Pengakuan itu perlu disyukuri karena dengan ketulusan pengakuan itu justru membuka peluang untuk memperbaikinya.  Penolakan (denial) bukan merupakan pilihan sikap yang tepat ketika kinerja peradaban dalam posisi begitu rendah, sekalipun tidak dipungkiri mungkin ada sebagian kecil umat Islam yang memilih sikap tersebut: menolak.  Rekonstruksi peradaban baru mungkin dirancang dan diimplementasikan ketika sudah terlebih dahulu ada pengakuan kekalahan, secara emosional dan rasional.

“Mengritisi tentang peradaban Islam saat ini dalam kondisi terpuruk, hampir pada titik nadir, salah-salah bisa dianggap sebagai pemikiran yang melenceng. Bisa-bisa ada yang ngamuk, marah. Hal tersebut, karena ada yang belum menyadarinya,” ungkap dosen FE UII tersebut.

Tulisan berikutnya menjelaskan bahwa penurunan peradaban Islam itu sudah demikian dekat dengan titik nadirnya: cenderung semakin kritis.  Setidaknya belum ditemukan tanda-tanda signifikan yang menunjukkan ada perputaran arah (turnaround) pergerakan:  belum kembali pada posisi pasang naik atau sekedar berhenti pada titik rendah tertentu.  Pergerakannya terlihat terus menurun dengan tingkat akselerasi yang tinggi, sepertinya telah tidak lagi tersedia sisa energi setidaknya untuk memperlambat proses kejatuhan.  Jika tidak segera dijumpai tanda-tanda kebangkitan bukan tidak mungkin inilah periode terakhir dari serangkaian krisis yang telah berlangsung dan mengarah pada kehancuran total.  Sungguh sebuah tragedi yang memilukan dan tidak diinginkan.

Menanggapi hal tersebut Rahmad Huda mahasiswa S2 Manajemen Pendidikan, menyampaikan pertanyaan, “Bagaimana membangun Islam agar dapat mengejar ketertinggalan?”

Suwarsono menjelaskan bahwa ada beberapa strategi, yakni konsentrasi membangun basis-basis ekonomi;  Orang Islam juga harus berani bekerja yang tidak populer; Pastikan strategi yang jitu, tidak perlu publikasi tentang apa-apa yang telah dilakukan dan apa saja yang akan dilakukan; Lakukanlah secara damai, revolusi damai, dan hiduplah berdampingan dengan peradaban negara lain; dan Jika sudah kaya, harus tetap religius, salah satu bentuknya adalah makin rajin bersedekah. (dsk)

Leave a Reply

Required fields are marked *.