Kuliah Perdana: Fisika, Filsafat dan Agama dalam Pendidikan Fisika

| 0 comments

Dr. Arief Hermanto, M.Si. saat menyampaikan materi didampingi moderator Yudhiakto Pramudya, Ph.D. (foto:dans)

Dr. Arief Hermanto, M.Si. saat menyampaikan materi didampingi moderator Yudhiakto Pramudya, Ph.D. (foto:dans)

Jum’at (4/3/2016) Program Studi S2 Pendidikan Fisika Program Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan menyelenggarakan Kuliah Perdana bagi mahasiswa baru S2 Pendidikan Fisika. Tema kuliah perdana adalah Fisika, Filsafat dan Agama dalam Pendidikan Fisika dengan pembicara Dr. Arief Hermanto, M.Si.

Hadir dalam acara tersebut Direktur Program Pascasarjana UAD Prof. Dr. Achmad Mursyidi, M.Sc., Apt., Kaprodi S1 Pendidikan Fisika Dr. Moh. Toifur, M.Si., Kaprodi S2 Pendidikan Fisika, staf pengajar, para mahasiswa baru dan lama S2 Pendidikan Fisika yang jumlah kurang lebih 80 orang.

Sambutan pertama oleh Dr. Moh. Toifur yang menyampaikan rasa terima kasih kepada para mahasiswa baru atas kepercayaannya menempuh studi di S2 Pendidikan Fisika, meski sudah ada PTN yang membuka prodi yang sama. “Belajar di UAD, insya Allah akan memperoleh ilmu duniawi dan ilmu ukhrawi (akherat). Kalian sudah berada di-track yang benar, mudah-mudahan cepat dalam menempuh studi,” kata Kaprodi yang sangat dekat dengan para mahasiswanya.

Direktur Pascasarjana UAD dalam sambutannya menyampaikan bahwa orang Islam tidak hanya wajib memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits, meneladani Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang Beliau contohkan dalam Al-hadist, akan tetapi harus mengetahui dan mempelajari ilmu-ilmu lainnya agar tidak kuper (kurang pergaulan). Mempelajari berbagai ilmu duniawi dalam rangka untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. “Sepandai-pandainya manusia tidak akan mampu menandingi ilmu dan kekuasaan penciptanya. Biasanya, orang semakin berilmu maka akan semakin merunduk,” ucapnya.

Sedangkan Dr. Arief Hermanto dalam ceramahnya menyampaikan bahwa antara ilmu yang satu dengan ilmu lainnya itu tidak dapat dipisahkan, saling berhubungan, saling melengkapi. Sehingga tidak ada ilmu yang merasa paling tinggi, karena pasti ada kekurangannya.

Leave a Reply

Required fields are marked *.