Lulusan Terbaik Pascasarjana UAD

| 0 comments

Kembangkan Pengajaran bahasa Inggris dengan Concept Attainment

Deppie Sari Susiany memperoleh predikat wisudawan terbaik dalam wisuda pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, akhir pekan lalu. Perempuan kelahiran Air Molek, 20 Desember 1977 itu meraih IPK 3,95 dengan masa studi untuk meraih master bidang Pendidikan Bahasa Inggris dalam waktu 1 tahun 11 bulan.

Prestasi ini cukup gemilang, sebab program Studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris UAD sudah terakreditasi. Ia juga membuat tesis yang cukup aplikatif dalam Pendidikan Bahsa Inggris, berjudul “The Effectiveness of Using Concept Attainment In Teaching Reading Comprehension to The Eleventh Grade Students of SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta”.

Tesis yang disusun ibu dua anak ini merupakan penelitian efektivitas pembelajaran reading dengan menggunakan concept attainment. Konsep ini merupakan upaya pengenalan contoh-contoh dari objek yang akan dibahas di dalam reading. Hal itu dilakukan supaya siswa bisa mengerti dan mengklasifikasikan objek-objek yang akan dipelajari dalam materi reading.

“Contohnya saat materi reading tentang hewan vertebrata dan avertebrata. Kami berikan contoh dulu, hewan-hewan itu sebenarnya apa, kemudia siswa bisa memahami hewan apa saja yang masuk vertebrata dan bukan,” ujarnya.

Dasar Pemahaman

Dengan cara semacam itu ketika reading telah membahas hewan-hewan tersebut lebih jauh siswa sudah punya dasar pemahaman. Dengan begitu, keaktifan siswa lebih tumbuh dan sangat membantu pemahaman reading secara keseluruhan.

Penelitian yang dilakukan di dua kelas di SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta menunjukkan metode ini efektif. Satu kelas yang diberi metode concept attainment memperoleh nilai yang lebih bagus dari pada kelas lain yang tidak menerapkan metode tersebut.

“Kelas dengan concept attainment rata-rata nilainya lebih tinggi 60% – 70% daripada kelas masih menggunakan metode reading biasa” terangnya. Menurutnya, selama ini siswa kebingungan karena tidak mempunyai dasar pemahaman objek yang dibahas dalam reading.

Umumnya yang terjadi, guru akan menerangkan atau menerjemahkan materi reading satu per satu. Ini menyebabkan motivasi siswa kurang tumbuh dan tidak berpikir. Deppie mengakui jika metode ini bukanlah yang pertama, tetapi masih jarang dilakukan di Indonesia. “Saya ingin menerapkan itu di tempat saya mengajar,” kata guru SMA 1 Rengat Indragiri Hulur.(Sony Wibisono-37)

Sumber : Program Pascasarjana UAD, Suara Merdeka

Leave a Reply

Required fields are marked *.