PERAN MAHASISWA PASCA SARJANA DALAM PERUBAHAN SOSIAL ERA INDUSTRI 4.0

| 0 comments

PERAN MAHASISWA PASCA SARJANA DALAM PERUBAHAN SOSIAL ERA INDUSTRI 4.0

(Disampaikan pada Stadium General Pascasarjana Universitas Ahmad Dahlan)
Oleh: Diyah Puspitarini, M.Pd

Kita tahu berapa besar dan kuatnya cengkraman VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) di Nusantara dan beberapa Negara Asia Tenggara lainnya, VOC yang lahir sejak 20 Maret 1602 akhirnya perlahan mulai kandas di peradaban awal revolusi industry (1799), meskipun VOC benar-benar mulai mengalami kemunduran di tahun 1800-an. VOC adalah kongsi dagang para pengusaha Belanda yang memperoleh hak membeli dan menguasai rempah-rempah perdagangan di Nusantara. VOC mengalami kebangkrutan karena beban biaya yang begitu besar yang harus mereka dikeluarkan dalam menumpas pemberontakan, selain itu VOC juga harus menanggung beban korupsi para stafnya. Perubahan efek revolusi industry nampaknya juga mempengaruhi sarana VOC yang masih menggunakan tenaga manual, sementara di Eropa sudah mulai memakai tenaga mesin. Maka pelan dan pasti jika tidak bisa menyesuaikan maka akan tergerus dengan sendirinya.
Sebenarnya berbagai macam Revolusi Industri pernah terjadi di belahan dunia ini. Pertama, revolusi industri dimulai dengan perubahan dari tenaga manusia menjadi tenaga mesin, dan era ini dimulai sejak abad ke 16. Kedua, revolusi industri dengan perubahan produksi elektronik secara masal. Ketiga, revolusi industry dengan pemanfaatan teknologi komputerisasi dan otomatis, era ini ketika masuk pada abad ke 18. Keempat, revolusi industri dengan teknologi tinggi berbasis data cyber system, dan era ini baru dimulai pada abad ke 20.
Perubahan social yang terjadi tampaknya sedikit banyak mempengaruhi kebutuhan manusia untuk melakukan “jumping life” agar bisa bertahan hidup dan menemukan pola. Setiap revolusi industri yang terjadi juga demikian, tentunya adanya revolusi karena ada perubahan social yang terjadi pula. Kebutuhan masyarakat akan efektifitas waktu dan efisiensi pekerjaan menjadi salah satu alasan terjadinya revolusi industri (Hutington, 1990). Maka jika perubahan yang kian cepat dan kemajuan teknologi serta tuntutan masyarakat global sangat cepat tanpa adanya penyesuaian life style, maka pasti akan terjadi kericuhan keadaan dan budaya yang kian besar. Era ini yang disebut dengan disruption, dimana pergerakan dunia industri atau persaingan kerja tidak lagi linier (Rhenald Kasali, 2016). Perubahan sangat cepat, fundamental dengan mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru. Cakupan perubahannya juga besar, yaitu dunia bisnis, perbankan, transportasi, social masyarakat, hingga pendidikan. Era ini akan menuntut kita berubah atau punah.

Era Industri 4.0
Salah satu keterkaitan antara revolusi industri dengan era disruption adalah munclnya industri baru yaitu 4.0 (baca: four-point-o). Munculnya era ini ditengah pergulatan era disruption menjadi warna tersendiri, dan bahkan perubahan tersebut kian terasa dalam kehidupan setiap individu. Industri 4.0 menurut Otto Hermann (Design Principles for Industrie 4.0 Scenarios , 2016) adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik, istilah ini mencakup system siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan, dan komputasi kognitif. Penjelasannya adalah, Industri 4.0 menghasilkan pabrik cerdas, di dalam pabrik cerdas berstruktur moduler, system siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Lewat internet untuk segala (IoT), system siber-fisik berkomunikasi dan bekerjasama dengan satu sama lain dan manusia secara bersamaan. Dan melalui komputasi awan, layanan internal dan lintas organisasi disediakan dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak di dalam rantai nilai.
Ada empat prinsip rancangan dalam industri 4.0, yaitu:
 Interoperabilitas (kesesuaian): kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan manusia untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan satu sama lain lewat internet untuk segala (IoT) atau internet untuk khalayak (IoP)
 Transparasi informasi: kemampuan system informasi: kemampuan system informasi untuk menciptakan salinan dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model pabrik digital dengan data sensor.
 Bantuan teknis: kemampuan system bantuan untuk membantu manusia dengan mengumpulkan dan membuat visualisasi informasi secara menyeluruh agar bisa membuat keputusan bijak dan menyelesaikan masalah genting yang mendadak. Kemampuan siber-fisik ini untuk membantu manusia secara fisik dengan melakukan serangkaian tugas yang berat.
 Keputusan mandiri: kemampuan system siber-fisik untuk membuat keputusan sendiri dan melakukan tugas semandiri mungkin. Bila terjadi pengecualian, gangguan, atau ada tujuan yang berseberangan, maka tugas bisa didelegasikan.

What’s next?
Tantangan kedepan tidak hanya pada era industri yang dihadapi, namun bonus demografi yang akan terjadi pada 2020 menempatkan level generasi milenial atau mereka yang lahir setelah era generasi X dan Y pada posisi terbanyak yang berada pada usia produktif. Itu artinya kebutuhan akan kecepatan dan keakuratan menjadi sangat penting disamping simple life juga akan menjadi kebiasaan, bahkan sampai pada kebutuhan akan pendidikan juga demikian. Tentunya hal ini menuntut banyak perubahan baik dari man dan tools dalam kehidupan sehari-hari dan pada siapapun juga.
Menristekdikti, Mohamad Nasir menjelaskan, berdasarkan evaluasi awal tentang kesiapan Negara dalam mengahadapi revolusi industri 4.0, Indonesia diperkirakan sebagai Negara dengan potensi tinggi meskipun masih dibawah Singapura, di tingkat Asia Tenggara posisi Indonesia cukup diperhitungkan. Sedangkan terkait dengan global competitiveness index pada world Economic forum 2017-2018, Indonesia menempati posisi ke 36, naik lima peringkat dari tahun sebelumnya posisi 41 dari 137 negara, meskipun masih dibawah Singapura, Malaysia, dan Thailand. Analisis dari kemenristekdikti bahwa penyebab Indonesia masih kalah karena lemahnya higher education training, science and technology readiness, dan innovation and business sophistication.
Oleh karena itu mestinya pendidikan tinggi sebagai pusat perubahan pendidikan harus menyesuaikan diri dengan era industri 4.0. Nampaknya hal ini langsung dijawab bahwa kedepan aka nada perubahan kebijakan dan program terkait dengan sumber daya iptek dikti, kelembagaan, pembelajaran dan kemahasiswaan, serta riset dan inovasi. Bahkan dengan kondisi ini mahasiswa dituntut untuk lebih pro aktif karena dosen berperan sebagai tutor dalam daring. Maka sudah saatnya pula ada pengembangan infrastruktur MOOC (Massive Open Online Course), teaching industry dan e-library yang sudah berjalan.
Para mahasiswa khususnya mahasiswa pascasarjana yang berada pada 2% pendudukan Indonesia, merupakan salah satu strata elite di Negara ini mestinya harus siap menghadapi era ini dan untuk itu anda harus menyiapkan diri menguasai beberapa hal berikut ini, yaitu: (1) educational competence, kemampuan untuk menguasai internet of thing; (2) kemampuan melakukan riset (competence in research), merintis jejaring/conectivity; (3) melakukan inovasi teknologi dalam penelitian maupun pembiasaan; (4) knowing globalization, tidak gagap terhadap budaya dan perubahannya; (5) thingking of future strategis, bisa berpikir kedepan dan melakukan berbagai kerjasama, paham arah SDG’s dan industri.
Ke depan perubahan global semakin cepat yang menuntut berubahnya pula arah ekonomi, social, politik dan semua aspek kehidupan. Hanya kita yang bisa menempatkan posisi diri berada dimana. Sebentar lagi dan pelan namun pasti, kita secara tidak sadar akan masuk dalam era platform, yaitu kecanggihan teknologi informasi mengenai sebuah software yang dapat digunakan di beberapa system operasi yang berbeda.(@admin)

Leave a Reply

Required fields are marked *.